Penghafal Al-Qur’an: Antara Keutamaan dan Ancaman

ﻃُﻮْﺑَﻰ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺤْﻔَﻈُﻪُ ﺩُﻧْﻴَﺎ ﻭَﺃُﺧْﺮَﻯ ﺃَﺑَﺪًﺍ # ﻭَﻛَﻴْﻒَ ﻻَ ﺇِﺫَﺍ ﻳَﻤُﻮْﺕُ ﺟِﺴْﻤُﻪُ ﻟَﻦْ ﻳَﻔْﺴُﺪًﺍ

“Beruntunglah bagi orang yang menghafalkan Al-Qur’an  di dunia dan di akhiratnya  selama-lamanya,  dan ketika mereka meninggal jasadnya akan utuh dan tidak akan rusak”


Syi’ir diatas merupakan salah satu dari banyaknya dalil yang menerangkan keutamaan bagi para penghafal Al-Qur’an Al-Karim. Acap kali orang-orang melihat seorang yang mampu menyelesaikan hafalan kitabullah sebagai seorang yang istimewa, sebagai seorang yang diberi anugrah yang besar nan agung karena membawa dan menjaga kalamullah yang sudah termaktub sebagai satu-satunya kitab suci yang terjaga orinilitasnya. Banyaknya pondok-pondok tahfidz yang berdiri dan banyaknya orang tua yang menginginkan dan memasukkan anaknya ke pondok tahfidz tanpa diberi bekal untuk mendalami syari’at dan kefahaman terhadap isi kandungan Al-Qur’an turut mentasbiskan kebenaran hadits Rasulullah SAW tentang tanda-tanda akhir zaman. Pada umumnya mereka hanya melihat satu sisi dari keutamaan-keutamaan para penghafal Al-Qur’an tanpa melihat sisi yang lain tentang ancaman-ancaman para penghafal Al-Qur’an.

Penghafal Al-Qur’an: Antara Keutamaan dan Ancaman


Mereka terbius dengan buaian nikmat-nikmat dan janji-janji manis yang akan diperoleh dan melupakan ancaman-ancaman bagi yang lalai.  Bukankan Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya Wallahu A’lam bis Showab , “ Semua dosa-dosa yang diperbuat umatku dilaporkan kepadaku dan Aku tidak melihat dosa yang lebih besar dari pada seorang yang menghafalkan satu ayat atau surat dari Al-Qur’an kemudian melupakannya”. Dan bukankah banyaknya ancaman-ancaman yang diberikan kepada orang yang membacanya hanya dimulut terlebih tidak mendatangi hak-haknya bacaan, serampangan dalam membaca. Belum lagi orang-orang yang menghafal Al-Qur’an dan menjualnya untuk urusan duniawi. Dan belum lagi orang-orang yang menghafal Al-Qur’an tapi akhlaknya tidak mencerminkan isi dari Al-Qur’an. Mereka semua bagaikan lilin yang yang mampu menyinari kegelapan di sekitarnya akan tetapi dirinya sendiri habis tak tersisa. 


Oleh karenanya keistiqomahan dalam mentadarus dan akhlak mejadi dua hal prioritas yang perlu diperhatikan oleh para penghafal dan orang lain yang mengenal dan bermu’asyaroh dengan penghafal Al-Qur’an. Dari sisi kaum penghafal, mereka harus mampu membagi waktunya untuk bercinta dengan kalamullah secara istiqomah setiap hari dan mereka harus menyadari bahwa mereka membawa beban berat dan ancaman dari Allah dan Rasul-Nya bagi yang melupakan ayat-ayatnya. Selain itu para penghafal juga harus mampu semaksimal mungkin mengejawantahkan akhlak-akhlaknya sebagai seorang yang menghafal Al-Qur’an dan berusaha memahami isi-isinya.


Dari sisi bukan penghafal Al-Qur’an tapi sering bermu’asyarah dengan penghafal Al-Qur’an, Hormatilah mereka karena Allah dan perintah syari’at dan ketahuilah bahwa mereka butuh waktu tersendiri untuk bercinta kepada-Nya, janganlah ganggu dengan urusan-urusan yang ia akan berat untuk istiqomah dalam menjaga Al-Qur’an. Hormati waktu sendirinya karena menghafal itu lebih mudah dari menjaga hafalan. Jangan jadikan lancarnya sebagai kesempatan untuk membebani dengan beban yang akhirnya ia tidak bisa membagi waktunya untuk mentadarus. Ketahuilah lancar bukan  tujuan tapi keistiqomahan adalah poin dan prinsip yang harus dijaga. Wallahu A’lam. Semoga kita semua dapat istiqomah dalam menjaga kalamullah dan menghormati orang yang dipilih Allah untuk menjaganya

 اللهم ارزقنا تلاوته أناء الليل وأطراف النهار أمين.(Muchammad Akrom)


Post a Comment for "Penghafal Al-Qur’an: Antara Keutamaan dan Ancaman"