SELUK BELUK BACAAN TAKBIR SAAT MEMBACA AL-QUR’AN

Takbir merupakan bacaan dzikir kepada Allah SWT yang mulia karena dengan membaca takbir bearti mengagungkan dzat Allah SWT dan mengakui bahwa Allah SWT adalah satu-satunya dzat yang maha besar dan maha agung dan tidak ada dzat lain yang melebihi dzat-Nya. Takbir acap kali dibaca saat berdzikir baik setelah sholat maktubah, istighosah atau kegiatan dzikir lainnya. Lalu apakah ada anjuran membaca takbir saat membaca surah-surah di Al-Qur’an sebagaimana membaca doa-doa khusus saat membaca atau mendengar ayat-ayat khusus di Al-Qur’an? 

SELUK BELUK BACAAN TAKBIR SAAT MEMBACA AL-QUR’AN


Hukum Membaca Takbir Saat Membaca Al-Qur’an

Para Ulama’ Qiro’ah menghukumi membaca takbir disunnahkan saat sedang menghatamkan Al-Qur’an khususnya mulai surah ad-dhuha sampai an-nas. Hukum ini didasarkan atas sebuah riwayat bahwasanya Rasulluah SAW memerintahkan membaca takbir ke Ubay bin Ka’ab saat membaca surat ad-dhuha. Riwayat ini akhirnya dijadikan landasan dan dipratekkan secara mutawatir mulai Rasulluah SAW sampai era saat ini.

Pernah suatu ketika Syekh Abu Muhammad bin Muhammad Al-Qurasiy menjadi imam tarawih di Masjidil Haram saat bulan Ramadhan. Saat menjelang hatam Al-Qur’an, Syekh Abu Muhammad membaca takbir mulai surat ad-dhuha sampai surat an-nas. Setelah sholat tarawih selesai, ternyata Imam Syafi’i R.A menjadi makmumnya. Dan Ketika bertemu dengan Syekh Abu Muhammad, Imam Syafi’i R.A berkata kepadanya, “ Engkau telah berbuat baik dan sesuai dengan sunnah”. 

Dari kisah diatas dapat diambil kesimpulan bahwa membaca takbir adalah sebuah hal yang baik dan disunnahkan oleh Fuqoha’ dan Ahli Qiro’ah baik diluar sholat maupun saat sholat.

Asal Mula Pembacaan Takbir dalam Al-Qur’an

Muncul berbagai perbedaan pendapat mengenai asal mula pembacaan takbir di Al-Qur’an. Menurut pendapat sebagian besar Ulama’ Tafsir dan Qiro’ah seperti yang dinuqil dalam kitab Nihayatul Qoulil Mufid karangan Syekh Muhammad Makki Nashor adalah ketika orang-orang Yahudi di Madinah berkata kepada orang-orang Quraisy, “ Tanyalah kepada Muhammad tentang ruh, Ashabul Kahfi, dan Dzulqornain!”. Kemudian orang-orang Quraisy mendatangi Rasulullah dan bertanya seperti apa yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi Madinah. Setelah Nabi Muhammad SAW mendengar pertanyaan orang-orang Quraisy, beliau bersabda, “Datanglah esok hari menemuiku! Aku akan menjawab pertanyaan kalian”. Ketika Rasulullah menjawab permintaan orang-orang Quraisy, beliau lupa berkata insyaallah. Setelah kejadian ini berhentilah penurunan wahyu Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW. 

Wahyu Al-Qur’an ini berhenti turun kepada Nabi Muhammad SAW selama 12 hari atau ada yang berpendapat 15 hari dan ada yang berpendapat 40 hari. Berhentinya penurunan Al-Qur’an ini disebabkan karena lupanya Rasulullah mengucapkan lafadh insyaallah dan sebagai pengingat kepada Rasulullah bahwasanya Allah lah yang berkuasa dan yang menghendaki menurunkan wahyu kepada beliau.  

Setelah berhari-hari wahyu tidak juga turun kepada Rasulullah, orang-orang musyrikin bergunjing bahwasanya Rasulullah telah ditinggalkan dan dibenci oleh tuhannya. Kemudian Allah menutup omongan kaum musyrikin dengan mengutus malaikat Jibril dan menurunkan wahyu surat ad-dhuha. Setelah malaikat Jibril membacakan surat ad-dhuha, Rasulullah pun membaca takbir “Allahu Akbar” dan kemudian memulai menirukan dan membaca wahyu surat ad-dhuha yang diterimanya . Maka bacaan takbir ini adalah di akhir bacaan malaikat Jibril dan di awal bacaan Rasulullah. Dari Riwayat inilah para Ulama’ Ahli Qiro’ah membaca takbir mulai surat ad-dhuha. dan surah-surah setelahnya sampai surat an-nas dengan disamakan kepada surat ad-dhuha dalam kesunahan membaca takbir.


Shighot Takbir Saat Membaca Al-Qur’an

Semua Ulama’ Qiro’ah sepakat bacaan takbir adalahالله أكبر   sebelum membaca basmalah. Akan tetapi terdapat berbagai perbedaan pendapat ulama’ mengenai tambahan lafadh tahlil dan tahmid dalam shigot bacaan takbir. Ada yang mengatakan tidak perlu tambahan tahlil dan tahmid dalam sebuah riwayat dari Imam Bazzi dan Qunbul dan sebagian ulama’ yang lain juga meriwayatkan tambahan tahlil dan tahmid dari kedua imam tersebut.

Dapat disimpulkan ada 3 shighot dalam pembacaan takbir saat membaca ad-dhuha sampai an-nas:

1. Cukup membaca lafadh takbir tanpa tambahan bacaan  tahlil dan tahmid.

Contoh : الله أكبر

2. Membaca bacaan takbir dengan tambahan bacaan tahlil didepannya. 

Contoh : لا إله إلا الله والله أكبر

3. Membaca bacaan takbir dengan tambahan bacaan tahlil di depannya dan bacaan tahmid di belakangnya. Contoh: لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد

Yang tidak diperbolehkan adalah membaca takbir dengan hanya tambahan tahmid dibelakangnya, contoh: الله أكبر ولله الحمد

Awal dan Akhir Surah yang Disunnahkan Membaca Takbir

Para Ulama’ Ahli Qiro’ah sepakat jika bacaan takbir disunnahkan mulai dari surat-ad-dhuha sampai an-nas. Yang menjadi perdebatan adalah apakah bacaan takbir dibaca setelah membaca surah atau di awal sebelum membaca surah. Perdebatan ini muncul karena riwayat pembacaan takbir Rasulullah di akhir bacaan surat ad-dhuha-nya malaikat Jibril dan di awal bacaan surat ad-dhuha-nya Rasulullah SAW. Ulama’ yang memandang bahwasanya bacaan takbir di akhir surah karena memandang bacaan takbir Rasulullah setelah malaikat Jibril selesai membaca surah ad-dhuha. sedangkan ulama’ yang memandang bahwasnya bacaan takbir di awal surah sebelum basmalah karena melihat bacaan takbir Rasulullah sebelum membaca surah ad-dhuha. oleh karenanya ada 7 wajah yang diperbolehkan dan 1 wajah yang dilarang dalam membaca takbir diantara dua surah:

1. Membaca waqof diakhir surah dan membaca washol takbir, basmalah dan awal surah contoh :. الله أكبرُ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ  وَٱلضُّحَىٰ

2. Membaca waqof di akhir surah dan membaca washol takbir dan basmalah kemudian waqof dan membaca awal surah. 

Contoh : . الله أكبرُ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ . أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ  وَٱلضُّحَىٰ

3. Membaca washol akhir surah dan takbir kemudian waqof dan lalu membaca washol basmalah dan awal surah.

Contoh :  الله أكبرُ . بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ  وَٱلضُّحَىٰ

4. Membaca washol akhir surah dan takbir kemudian waqof dan membaca basmalah lalu waqof dan membaca awal surah.

Contoh :  الله أكبرُ . بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ . أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ  وَٱلضُّحَىٰ

5. Mewasholkan akhir surah, takbir, basmalah dan awal surah.

Contoh :  الله أكبرُ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ  وَٱلضُّحَىٰ

6. Membaca waqof akhir surah lalu membaca waqof takbir dan kemudian mewasholkan basmalah dan awal surah.

Contoh : . الله أكبرُ . بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ  وَٱلضُّحَىٰ

7. Mewaqofkan semuanya 

Contoh : . الله أكبرُ . بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ . أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ  وَٱلضُّحَىٰ


Yang tidak diperbolehkan adalah mewasholkan akhir surah dengan takbir dan basmalah kemudian waqof lalu membaca awal surah.

Contoh:  الله أكبرُ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  . أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ  وَٱلضُّحَىٰ

Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

Post a Comment for "SELUK BELUK BACAAN TAKBIR SAAT MEMBACA AL-QUR’AN "