REMAJA, CINTA, DAN PERNIKAHAN DALAM PANDANGAN ISLAM

REMAJA DAN MASA DEPAN

Banyak pakar telah membuat batas masa remaja antara usia 12 s.d 18 tahun, 12 s.d 21 tahun, dan ada yang membatasi antara usia 12 s.d 23 tahun. Dari batas-batas yang dibuat para pakar ini bisa dimengerti bahwa, permulaan masa remaja relatif sama, yaitu usia 12 tahun, sedangkan finisnya variatif. Karena itu, selanjutnya dikenal istilah remaja yang diperpanjang untuk yang terakhir, dan remaja yang diperpendek untuk yang pertama.

Sudah familier bahwa masa remaja adalah masa badai dan tekanan (storm and stress). Masa krisis identitas dan pencarian jati diri. Remaja adalah masa galau, abu-abu, tidak jelas, labil, emosional, ekspresif, dan eksperimental. Masa remaja adalah masa “antara”. Yakni antara usia anak-anak dan usia dewasa. Keberadaannya yang di antara ini, tak jarang menempatkan remaja pada posisi yang sulit diterima baik di dunia anak-anak sekaligus di dunia dewasa. Remaja adalah dunia tersendiri yang terpisah dari pengakuan lingkungan. Remaja akan dipersalahkan ketika bersikap kanak-kanak, namun juga tidak akan diakui dalam kiprah sosial. 

REMAJA, CINTA, DAN PERNIKAHAN DALAM PANDANGAN ISLAM

Dalam masa-masa yang krisis identitas ini, remaja akan terombang ambing oleh banyak gelombang romantika. Namun demikian, di tengah terjangan gelombang ini remaja sebenarnya sedang melewati sebuah proses besar pencarian identitasnya. Sebuah identitas diri yang akan menjadi karakter dan kepribadian masa depan. Identitas masa depan sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh kegalauan-kegalauan pada masa remaja. Apabila salah dalam melewati masa remaja, masa depan akan menjadi taruhannya.

Ada beberapa karakteristik remaja yang khas dan umum mewarnai romantika remaja. Antara lain adalah:

a. Masa remaja adalah masa transisi 

Periode ini menuntut seseorang meninggalkan sifat dan perilaku kekanak-kanakannya, dan harus mulai mempelajari pola perilaku dan sikap yang sama sekali baru untuk menggantikan pola-pola sebelumnya. Selama proses transisi ini, seringkali remaja merasa galau dan tidak jelas mengenai peran yang dituntut oleh lingkungan. 

b. Masa remaja adalah periode perubahan

Pada usia remaja, banyak perubahan yang dalami seseorang, meliputi perubahan fisik, kematangan seksual, peningkatan emosi, perubahan minat, perubahan peran, dan perubahan nilai. Di periode ini, ada naluri dan kecenderungan besar untuk mengetahui segala yang baru. Perubahan-perubahan baru ini, akan mendorong remaja memiliki rasa penasaran yang kuat bahkan relatif menjadi keranjingan dengan hal-hal yang tidak dikenal di masa anak-anak sebelumnya. Kecenderungan demikian merupakan tuntutan dari perubahan-perubahan fisik maupun psikis remaja yang masih mengalami kekosongan identitas tersebut. 

c. Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri 

Di usia remaja yang krisis identitas, ada kecenderungan berkelompok atau membangun komunitas dengan teman sebaya. Melalui komunitas ini, mereka mulai mencari identitas diri dan berusaha mengaktualisasikannya. Gaya hidup, penampilan, pakaian, bicara, perilaku, dan karakter anggota kelompok, akan menjadi referensi penting bagi pembentukan dan perkembangan identitasnya. Di periode ini, naluri eksperimental terhadap segala hal yang sebelumnya tidak mereka ketahui, menemukan momentumnya. Krisis identitas, menjadikan remaja memiliki dorongan naluri mencoba dan meniru apa saja secara radikal, dan nyaris tanpa filter dan pertimbangan memadai.  

d. Masa remaja adalah masa kenakalan

Pada tahap remaja akhir, remaja akan cenderung berpikir melakukan perilaku orang dewasa. Remaja mulai memperhatikan perilaku atau simbol-simbol yang berhubungan dengan status orang dewasa, seperti merokok, berjudi, mengkonsumsi ekstasi, miras, berhubungan seks, dll. Naluri eksperimental dan dorongan meniru yang kuat, menjadikan remaja relatif liar dan krisis pertimbangan dalam mengekspresikan perilakunya. Perilaku remaja cenderung menjadi radikal dan menabrak norma sosial maupun agama. Disamping itu, emosi remaja yang masih sangat labil, dorongan kuat meniru perilaku orang dewasa menjadikan setiap perilaku remaja cenderung suka menentang, urakan, dan emosional. Dan karenanya, perilaku-perilaku tidak produktif seperti kelayapan, begadang, tawuran, frustasi, ngedrug, pacaran, dan kriminal lainnya, menjadi pemandangan khas dunia remaja. Apabila tidak ada kontrol eksternal hingga terjadi pengabaian sosial, gejala perilaku remaja demikian akan menjadi fenomena kenakalan remaja (juvenile delinquency). Yaitu perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai normatif sosial-agama.

Beberapa potret karakteristik masa remaja di atas, merupakan kecenderungan umum romantika remaja, khususnya remaja di era global ini. Orang tua harus menyadari kecenderungan negatif ini, agar bisa memberi kontrol dan mengendalikan kecenderungan remaja ke arah yang produktif. Remaja harus diberi bimbingan dan ditanamkan nilai-nilia yang baik agar mampu memfilter perilakunya sehingga bisa menjadi remaja yang cerdas melewati proses pencarian jati diri mereka tanpa mengalami keterpurukan dalam kenakalan remaja yang bisa menghancurkan masa depan. Di sini sangat diperlukan adanya perhatian, kepedulian, dan komunikasi yang baik antara orang tua dan remajanya.

Masa depan yang baik, mapan, dan terhormat, sangatlah mahal dalam kehidupan setiap orang. Kebaikan dari masa depan kita, ditentukan oleh seberapa baiknya kita hari ini. Kebaikan masa depan tidak bisa dibeli dengan kekayaan materi. Masa remaja yang baik, adalah harga untuk masa depan yang baik. Jika memimpikan masa depan yang cemerlang, maka tidak ada pilihan selain bersedia ikhlas mencemerlangkan pribadi sejak usia remaja. Jangan pernah bermimpi memiliki masa depan cerah, apabila tidak ada kemauan sejak dini menjadi remaja yang cerah. Masa depan bukanlah misteri di 10 atau 20 tahun yang akan datang. Masa depan adalah realitas di depan mata kita hari ini. Bagaimana kita hari ini? Seperti apa kita hari ini? Sedang apa kita hari ini? Itulah potret masa depan kita. Hari ini Anda menjadi remaja yang tenggelam dalam kenakalan dan aktivitas-aktivitas murahan yang tidak produktif, maka sambutlah masa depan suram yang penuh kegagalan. Hari ini Anda sanggup tampil menjadi remaja cemerlang yang dengan cerdas tidak membiarkan sedetikpun waktu terbuang dengan gratis untuk aktivitas-aktivitas murahan, maka katakanlah: SELAMAT DATANG MASA DEPAN YANG CEMERLANG.

شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِّ

“Remaja hari ini adalah aktor masa depan”

Karena itu, sangat penting untuk mengetahui kriteria remaja cerdas yang memiliki potensi besar dan keberanian menantang masa depannya dengan rasa percaya diri. Selain remaja cerdas harus sejak dini mulai berpikir jauh ke depan, visioner, revolusioner, memiliki cita-cita tinggi, ikhlas belajar dengan tekun dan keras, remaja cerdas juga harus ikhlas memiliki semboyan tegas dalam dirinya berikut ini:

1. Anti tawuran;

2. Anti ekstasi dan minuman keras;

3. Anti pornografi; dan

4. Anti pacaran.

Tawuran adalah aktivitas bodoh dan merugikan yang membuang energi dan emosi dengan sia-sia. Tidak ada imbalan positif yang dapat diperoleh dari tawuran selain kebanggaan palsu saat bisa mengalahkan lawan. Dan hanya orang bodoh yang merasa bangga saat berhasil melampiaskan emosi dengan merusak orang lain. 

Menjadi budak ekstasi, minuman keras, atau pornografi, adalah bentuk kekalahan paling nyata dan kegagalan sejak dini untuk tampil menjadi generasi yang siap menyambut masa depan dengan percaya diri. Budak ekstasi, miras, atau pornografi, hanyalah manusia-manusia dengan mental kerdil, lemah, dan frustasi yang tidak memiliki harapan mulia di masa depan.

Pacaran di usia remaja, adalah aktivitas kontra produktif bagi kecemerlangan prestasi dan masa depan. Seseorang ketika telah terjangkiti perasaan cinta dalam hatinya, maka selain cinta akan menjadi nomor dua, termasuk cita-cita masa depan. Cinta ketika hadir, maka akan menjadi segalanya. Menjadi yang pertama kali terpikirkan setelah bangun tidur, dan menjadi yang terakhir kali dipikirkan sebelum tidur. Satu langkah maju dalam cinta, akan berisiko mundur seribu langkah dalam cita-cita. Meraih cita-cita besar akan sulit berhasil apabila hanya dengan setengah hati, sebab separuh hati –atau bahkan lebih– telah dicurhakan untuk cinta. Cita-cita tak pernah sudi diduakan. Dalam kalam hikmah disebutkan:


 الْعِلْمُ لَا يُعْطِيْكَ بَعْضَهُ حَتَّى تُعْطِيَهُ كُلَّكَ

Ilmu (kesuksesan) tidak sudi memberikan sebagian dirinya kepadamu hingga kamu bersedia mempersebahkan dirimu hanya untuknya sepenuhnya.

Usia remaja adalah harga untuk masa depan. Menghabiskan masa remaja hanya untuk sibuk bermain perasaan dengan lawan jenis yang tidak ada 50 persen akan menjadi pasangan hidupnya, adalah tindakan konyol. Remaja cerdas harus berpikir, terlalu berharga usia remaja hanya untuk dipersembahkan secara gratis kepada kekasih yang 50 persen kemungkinan akan dimiliki orang lain. Pacaran di usia remaja adalah pacaran yang salah waktu. Sebab yang dibutuhkan di usia remaja bukanlah menghabiskan energi, pikiran, dan waktu untuk lawan jenis, tapi untuk masa depan. Jadi prinsip hidup bagi remaja cerdas adalah, tinggalkan cinta demi cita-cita, kejar cita-cita demi cinta. Biarkan semua indah pada waktunya.

  

CINTA DAN NAFSU

Cinta, –konon– adalah sepatah kata yang tak pernah benar-benar bisa dimengerti definisinya. Tak sedikit para pecinta atau para penyair cinta yang merasa kebingungan bahkan gagal memberikan penjelasan definitif satu kata yang bisa dirasakan semua jenis manusia itu. Sekian banyak syair, puisi, sajak, pantun, dan ungkapan cinta yang telah digubah menjadi larik-larik eksotik, namun keberadaannya hanya lebih sebagai ekspresi emosional dan pengalaman batin para pecinta ketimbang sebagai penjelasan rasional tentang hakikat cinta itu sendiri. Fakta ini agaknya dikarenakan cinta merupakan wilayah rasa, emosi, dan psikis. Cinta adalah sensasi psikologis, yang akan lebih memungkinkan dimengerti tidak dengan memberikan penjelasan rasional ilmiyah, melainkan dengan rasa dan sensitifitas intuitif (dzauq). 

Lantaran tak pernah ada definisi cinta yang benar-benar dimengerti, lumrah apabila selanjutnya kata ini mengalami pembiasan makna yang luar biasa. Bahkan tidak jarang kita saksikan pemerkosaan kata cinta pada hal-hal yang sebenarnya bukan cinta. 

Apabila cinta adalah perasaan yang bersumber dari ketulusan kasih sayang, maka cinta tidak akan pernah memberikan apapun selain kebaikan. Perasaan ingin menyayangi, mengasihi, melindungi, menjaga, memuliakan, melayani, berkorban, dan memberikan yang terbaik untuk orang yang dicintai, itulah manivestasi konkrit dari cinta. Apabila ini bisa diterima, maka menjadi jelas bahwa cinta berbeda dengan ketertarikan seksual, syahwat, nafsu birahi, atau bahkan dengan perasaan ingin memiliki. Sebab kalau hanya urusan ketertaikan seksual atau syahwat biologis, tanpa cinta pun bisa jadi. 

Pandangan bahwa cinta itu berbeda dengan syahwat atau nafsu ingin memiliki, akan semakin bisa dibenarkan apabila kita merujuk pada sebuah firman Allah swt. dalam Alqur’an berikut: 


زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ. (آل عمران: 14)

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).  


Dalam menafsiri lafadz حُبُّ الشَّهَوَاتِ pada ayat ini, para teolog (mutakallimîn) mengatakan antara cinta dan syahwat itu berbeda. Perbedaan ini ditengarai melalui kaidah nahwiyah bahwa, rangkaian idlâfah menunjukkan perbedaan mudlâf dengan mudlâf ilaih. Dengan kata lain, mudlâf (حُبُّ) bukanlah mudlâf ilaih (الشَّهَوَاتِ). Artinya, cinta bukanlah syahwat. 

Perasaan cinta, dalam pengertian mengasihi, menyangi seperti di atas, dalam Islam tidak dilarang. Bahkan cinta merupakan anugerah Allah untuk hambanya yang harus disyukuri dengan menjaganya senantiasa lurus menuju ridla-Nya. Mencintai lawan jenis secara wajar dan rasional, dalam Islam bukanlah larangan. Karena naluri saling mencintai antar laki-laki dan wanita, telah ditetapkan sebagai sunnatullah. Naluri tersebut ada karena wanita diciptakan dari bagian organ laki-laki (tulang rusuk), sehingga ia akan senantiasa merindukan asal kejadiannya itu. Sedangkan laki-laki diciptakan dengan memiliki naluri ketertarikan kepada wanita yang dapat membuatnya merasa tentram dan damai berada di sisinya. Dalam sebuah hadits Nabi saw. bersabda: 

حُبِبَ لِي مِن دُنيَاكُم النِسَاءُ وَالطَيبُ وَجُعِلَتْ قَرَةُ عَينِي فِي الصَلَاةِ

Aku dicintakan pada duniamu, yaitu wanita dan wewangian, dan dijadikan penentramku di dalam shalat. (HR. Ahmad, An-Nasa’i, Hakim dan Al-Baihaqi)

Setelah jelas bisa dimengerti perbedaan antara cinta dan nafsu, selanjutnya perlu diketahui alasan atau motivasi seseorang jatuh cinta, sehingga dari sana akan bisa diketahui kualitas cinta seseorang. Apakah cinta yang tulus atau sebenarnya hanya ketertarikan syahwat yang diatasnamakan cinta.

Dalam Ihya' Ulumiddien, Imam Alghazali mengklasifikasikan motivasi atau alasan rasa cinta ke dalam empat kategori:

a. Cinta Karena Faktor Internal

Figur yang menarik, baik secara fisik, kepribadian, perilaku, kecerdasan, atau lainnya, adalah unsur-unsur internal (dzati) seseorang yang dinilai indah, disenangi, dan dicintai oleh karakter normal. Unsur-unsur inilah yang pada galibnya menjadi alasan seseorang jatuh cinta. Namun menurut Alghazali, rasa cinta kadang bukan termotivasi oleh faktor-faktor figuristik internal tersebut, melainkan karena adanya unsur kecocokan atau kesesuaian (munâsabah) abstrak diantara dua orang. Karenanya, tidak jarang dijumpai dua orang yang saling mencintai dan mengasihi tanpa lagi peduli pada faktor-faktor menarik secara figuristik internal. Kecocokan astrak ini berada di luar jangkauan analisis manusia. Alghazali menyitir sebuah hadits yang mengisyaratkan adanya ketertarikan karena unsur kecocokan abstrak ini.

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنهَا اخْتَلَفَ

“Jiwa-jiwa manusia adalah pasukan-pasukan yang dilepas. Apabila pasukan-pasukan itu bertemu dan saling mengenal, maka akan terjadi kecenderungan (cinta), dan apabila tidak saling mengenal, maka akan berpaling”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Termasuk dalam kategori cinta ini adalah orang yang mencintai karena kecantikan atau ketampanan paras. Cinta jenis ini bukan termasuk cinta karena Allah, melainkan cinta karena dorongan naluri syahwat. Sebab, syahwat memiliki ketertarikan alamiah pada hal-hal indah, dan menyenangkan (al-ladzah). Karenanya, cinta jenis ini bisa dirasakan baik oleh orang beriman ataupun tidak. Secara hukum, jenis cinta seperti ini tidak berdosa, sepanjang tidak menjerumuskan pecinta pada hal-hal terlarang, seperti melampiaskan hasrat birahi bukan pada tempatnya.

b. Cinta Karena Faktor Eksternal Duniawi

Yaitu mencintai seseorang demi mendapatkan tujuan dan kepentingannya di balik cinta yang ia berikan. Dalam kategori ini, orang yang dicintai hanya menjadi alat atau perantara untuk mencapai tujuan yang sebenarnya, sedangkan yang sesungguhnya dicintai adalah apa yang menjadi tujuan dan kepentingannya itu.

Seorang pria mencintai wanita karena kedudukan atau kekayaannya, maka harta dan kedudukan wanita itulah sebenarnya yang menjadi kekasih pria, bukan wanitanya. Wanita dalam kualitas cinta demikian dicintai hanya sebagai sarana yang diperalat untuk memperoleh kekasih dan cinta yang sesungguhnya, yakni harta dan kedudukan. Jenis cinta demikian juga bukan cinta yang tulus, apalagi cinta karena Allah. Dan secara hukum, akan sangat tergantung pada legal-tidaknya tujuan-tujuan duniawi tersebut.

c. Cinta Karena Faktor Eksternal Ukhrawi

Yaitu mencintai bukan karena figur dan faktor-faktor internal, atau karena faktor eksternal tapi tidak untuk kepentingan yang bersifat duniawi, melainkan demi kepentingan ukhrawi. Cinta demikian termasuk kategori cinta karena Allah. Seperti mencintai isteri shalihah demi keterjagaan agamanya dan memperoleh keturunan shalih yang akan mendoakan, dll. Kendati dalam cinta jenis ini terdapat faktor-faktor eksternal yang bersifat duniawi, namun cinta demikian termasuk kategori cinta fiLlah, karena yang dicintai bisa menjadi wasilah menuju cinta Allah. 

Hanya saja, cinta ini termasuk cinta kepada Allah dengan syarat, apabila kepentingan-kepentingan ukhrawi yang diperoleh berkurang, maka akan berkurang pula rasa cintanya, dan akan bertambah apabila bertambah keuntungan ukhrawi yang didapatkan. Sederhananya, cinta kepada Allah adalah setiap cinta yang andai saja bukan atas dasar keimanan kepada Allah, niscaya cinta itu tidak pernah dirasakan.

d. Cinta LiLlah dan FiLlah 

Ini adalah cinta tingkat tinggi. Mencintai karena cinta Allah. Artinya, mencintai apapun bukan karena apapun kecuali karena cinta Allah. Logikanya, cinta yang besar pada kekasih, akan menjalar pada segala hal yang berkaitan dengan kekasih. Ia akan mencintai orang-orang yang dicintai kekasih: idolanya, temannya, saudaranya, pembantunya, bahkan kekasihnya kekasih. Ia akan mencintai apa saja yang disukai kekasih: hobinya, seleranya, rumahnya, pakaiannya, bahkan kekurangan-kekurangan atau sesuatu yang menyakitkan dari kekasih pun akan dicintai. Seperti kata pepatah, “gara-gara bunga mawar, durinya pun ikut disiram”. 

Puncak dari rasa cinta ini akan sampai pada seperti keadaan para perindu Allah yang tak dapat lagi membedakan antara kenikmatan dan petaka yang menimpanya, sebab segalanya datang dari Allah, Sang Kekasih Tercinta. Harapan dan ratapan akan sama-sama terasa manis baginya. Ia akan mencintai apa saja yang dicintai dan disenangi kekasih, seperti ia juga akan membenci apa saja yang dibenci sang kekasih. 

Seorang laki-laki yang jatuh cinta pada wanita, termasuk cinta fiLlah dan liLlah apabila semata-mata atas dasar, oleh karena Allah mencintai wanita itu. Selebihnya, hanya “cinta” dalam tanda kutip yang besar.


Dari sini bisa dimengerti bahwa, cinta itu berbeda dengan ketertarikan seksual, ataupun syahwat memiliki. Cinta adalah perasaan yang hanya akan memberikan kebaikan dan pemuliaan kepada pecinta dan orang yang dicintai. Cinta itu membangun, bukan merusak dan menghancurkan. Cinta tidak akan pernah mengizinkan pada sesuatu yang tidak baik. Segala hal yang yang tidak baik, pasti bukan cinta. Karena itu, cinta tak bisa dipaksa menjadi alasan pembenaran segala tindakan yang tidak baik. 

Karena itu, jangan pernah percaya pada orang yang berdalih atau mengatasnamakan cinta saat ingin dituruti syahwat seksualnya. Orang demikian bukan sedang “mencintaimu”, melainkan hanya ingin mengajakmu “bercinta”. Dan yang perlu diperhatikan lagi adalah, –umumnya– pria bersedia “mencintai”, lebih karena ingin bisa “bercinta”, sedangkan wanita bersedia diajak “bercinta”, lebih karena ingin dicintai. Keduanya sangat berbahaya bagi yang belum benar-benar siap secara mental dan finansial untuk berlenggang menjemput cinta di indahnya pelaminan. Hati-hati!.

NIKAH DAN IBADAH

Nikah, merupakan ibadah yang menduduki posisi sangat penting dalam keagamaan seorang Muslim. Nikah dalam Islam menempati separuh agama. Artinya, seorang Muslim yang telah menikah, seolah telah menjalankan separuh dari agamanya. Sebab, kehadiran agama Islam, pada prinsipnya untuk menjaga potensi keburukan perilaku manusia. Potensi keburukan ini bersumber dari dorongan dua muara nafsu. Yakni nafsu perut dan nafsu kelamin. Ketika seseorang telah menikah, maka nafsu kelamin telah memiliki tempat penyaluran halal yang akan menjaganya, sehingga tugas seseorang tinggal menjaga salah satu nafsunya, yaitu nafsu perut. Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ فَلْيَتَّقِ الله فِي النِّصْفِ الْبَاقِي. (رواه البيهقي)

Ketika seorang telah menikah, maka ia benar-benar telah menyempurnakan separuh agama, maka hendaknya ia takut kepada Allah pada separuh yang lain. 

Dalam Islam, hanya ada dua jalan bagi kehalalan penyaluran hasrat seksual. Yaitu nikah atau kepemilikan budak. Pemenuhan hasrat biologis selain melalui dua jalan ini, termasuk perbuatan zina yang diharamkan Allah. Namun nikah dalam Islam bukan hanya sekedar prosesi seremonial untuk keabsahan melampiaskan hasrat seksual belaka. Nikah dalam Islam merupakan prosesi sakral yang diikrarkan dengan kalimat Allah. Rasulullah saw. bersabda:

اتَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ. (رواه مسلم) 

Takutlah kalian kepada Allah dalam urusan wanita. Sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan kalian menghalalkan farji mereka dengan kalimat Allah. 

Bahkan nikah merupakan perjumpaan dua kategori beda kelamin dalam satu bahtera tanggung jawab, amanah, hak, dan kewajiban, untuk bersama mengarungi mahligai cinta, yang akan melahirkan generasi-generasi shalih pewaris para Nabi yang akan melanjutkan tugas estafet kekhalifahan di muka bumi.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Rum : 21)

تَزَوَّجُوا الْوَلُودَ الْوَدُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Nikahilah perempuan-perempuan yang subur, yang memiliki kasih sayang besar, karena sesungguhnya dengan perantara kalian aku memperbanyak umat di hari kiamat. (HR. Abu Dawud dan Hakim)

Karena sedemikian urgennya nikah dalam Islam, Rasulullah saw. mewanti-wanti umatnya agar tidak sampai salah dalam memilih pasangan. Nabi sangat menekankan umatnya untuk selektif dalam memilih jodoh, dan memprioritaskan pribadi yang memiliki keagamaan kuat, karena pribadi seperti inilah yang akan senantiasa menolong dalam melangkah lurus menuju ridla Allah swt.

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ وَلَا تَضَعُوهَا فِي غَيْرِ الْأَكْفَاءِ. (رواه الحاكم)

Pilihlah untuk seperma kalian, janganlah kalian meletakkannya di selain tempat yang sepadan.

تُنْكَحُ المَرْأَةُ  ِلأَرْبَعٍ  لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. (رواه مسلم)

"Wanita dinikahi karena empat faktor: materinya, keturunannya, kecantikannya dan keagamaannya. Carilah wanita yang memiliki keagamaan kuat, kau akan rugi jika tidak mendapatkannya". (HR. Imâm Muslim).  

Dalam sebuah sabda, Nabi pernah melukiskan kriteria wanita shalihah. Yaitu wanita yang ketika dipandang suami sanggup mendamaikan mata dan menentramkan hati, yang senantiasa taat ketika diperintah, dan bisa menjaga kehormatan ketika ditinggal pergi suami. 

الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ

"Wanita salehah adalah ketika dilihat suami maka akan membahagiakannya, ketika diperintah suami maka akan mematuhinya, dan ketika ditinggal suami maka ia akan menjaga kehormatan suami." (HR. Ibn 'Abbâs)

Mendapatkan pasangan hidup yang ideal (shalih/shalihah), tentu pilihan setiap orang. Sebab pasangan yang ideal akan sangat menjanjikan keharmonisan lahir batin dalam mengarungi mahligai rumah tangga. Tidak ada penderitaan yang lebih mengecewakan selain mendapati seorang yang kita salah memilihnya sebagai pasangan hidup. Karena itulah Islam mensyariatkan khithbah (lamaran) sebelum pernikahan. Khithbah disyariatkan sebagai tahap penjajakan dan ta’aruf, yakni tahap saling mengenali satu sama lain, sebagai antisipasi kekecewaan di kemudian hari. Karena tujuan khithbah hanya sebagai tahap penjajakan dan pengenalan, kedekatan hubungan tang dilegalkan dalam konsep ini juga terbatas. Yaitu hanya dengan cara memandang wajah dan telapak tangan, bukan dengan cara-cara pacaran seperti trend sekarang. Legalitas lamaran hanya dengan cara memandang wajah dan telapak tangan ini, karena rahasia-rahasia fisik dan kepribadian seseorang sudah bisa dimonitor melalui aura wajah dan telapak tangan. 

Disamping boleh memandang wajah dan telapak tangan, dalam proses khithbah juga diperbolehkan duduk atau berbincang-bincang bersama sepanjang tidak sampai bernuansa khalwah (berduaan), seperti msalnya mengajak pihak ketiga yang bisa melindungi dari fitnah, dan juga tidak ikhtilâth (berdempetan), atau saling sentuhan. Sebab, makhthûbah (wanita yang telah dilamar) bagaimanapun masih berstatus ajnabiyyah (wanita lain) yang sedikitpun belum berlaku hukum zaujiyyah (suami-isteri). Laki-laki dan wanita yang bukan mahram dan bukan suami-isteri, haram hukumnya untuk berduaan atau berdempetan. Rasulullah saw. bersabda:


إِيَّاكُمْ وَالْخَلْوَةَ بِالنِّسَاءِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَلا رَجُلٌ وَامْرَأَةٌ إِلا دَخَلَ الشَّيْطَانُ بَيْنَهُمَا، وَلَيَزْحَمُ رَجُلٌ خِنْزِيرًا مُتَلَطِّخًا بِطِينٍ أَوْ حَمْأَةٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَزْحَمَ مَنْكِبُهُ مَنْكِبَ امْرَأَةٍ لَا تَحِلُّ لَهُ. (رواه الطبراني)

Takutlah kalian berduaan di tempat sepi dengan wanita (bukan mahram). Demi Dzat yang aku dalam genggaman-Nya, tidaklah seorang laki-laki dan perempuan (bukan mahram) yang berduaan di tempat sepi kecuali syaitan masuk diantara keduanya, seorang laki-laki yang bergumul dengan babi hutan yang berlumuran lumpur hitam, itu jauh lebih baik dari pada pundaknya berdempetan (ikhtilath) dengan pundak perempuan yang tidak halal baginya”. (HR. Ath-Thabrani) 

Jadi, konsep Islam dalam mengatur hubungan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta, bukan dengan hubungan tanpa batas, melainkan hubungan yang dibingkai dengan nilai-nilai kesalehahan pakerti. Kemesraan dan romantisme yang tidak mencerminkan kepribadian shalih/shalihah antar lawan jenis, sangat dikecam dalam Islam, sebelum keduanya mengikrarkan ijab dan qabul dalam pernikahan yang sah. 

Karena itu, sebelum menikah, muda-mudi Islam tidak seharusnya menjalin romantisme dengan lawan jenis, supaya harga diri dan keshalihan agamanya terjaga. Hanya pemuda bodoh yang merasa malu ketika tidak memiliki pasangan sebagai tempat bermesraan yang tidak halal. Tak perlu khawatir dengan jodoh. Kendati jodoh perlu dicari, namun percayalah, jodoh sudah diatur oleh Allah. Karena itu, tugas kita bukan untuk menghabiskan waktu, pikiran, energi untuk memburunya. Orang yang hanya sibuk memburu cinta, akan lupa untuk memantaskan diri dicintai oleh sebaik-baiknya kekasih. Tugas kita tinggal mengatur dan memantaskan diri menjadi sebaik-baiknya pribadi yang dicintai oleh sebaik-baiknya kekasih. 

Indahkanlah hati dan pikiranmu, anggunkanlah wajah dan perilakumu, dan bergaullah dalam lingkungan yang baik. Kekasih yang baik, anggun, dan indah, hanya pantas bagi pribadi yang baik, anggun, dan indah. 

Post a Comment for " REMAJA, CINTA, DAN PERNIKAHAN DALAM PANDANGAN ISLAM"