PERADABAN ISLAM PADA MASA RASULULLAH

Muhammad SAW lahir pada hari senin 12 Robi’ul Awal 40 SH/20 April 571 M, bertepatan dengan penyerbuan pasukan gajah yang di pimpin Abrahah dari Abissinia (Yaman), yang bertujuan menghancurkan Ka’bah, sehingga tahun itu lebih di kenal dengan tahun Gajah.

Ketika berumur enam tahun, sang ibu meninggal. Yang mengasuh Muhammad kecil kemudian adalah kakeknya, ‘Abd al-Muththalib. Sekitar dua tahun kemudian, sang kakek pun meninggal dan pengasuh berikutnya diserahkan kepada pamannya, Abu Thalib, yang menggantikan ayahnya sebagai pemimpin klan (bani ) Hasyim yang meskipun tergolong miskin, namun cukup terpandang dan terhormat. Orang inilah yang nantinya memberikan perlindungan kepada Nabi dan membelanya mati-matian dari berbagai tantangan berat yag datang dari pemuka-pemuka Quraisy terhadap risalah nubuwwah yang didakwahkannya.

PERADABAN ISLAM PADA MASA RASULULLAH

    Ketika berusia 25 tahun (menurut pendapat yang masyhur) ia menikahi Khadijah, seorang janda saudagar Makkah atas restu pamannya,Abu Thalib. Keluarga yang di bina oleh mereka membuahkan beberapa anak, baik putra maupun putri. Namun yang tertinggal hingga ajal Nabi menjemput hanya seorang putrinya, Fathimah.

Menginjak dewasa, orang-orang Makkah menyebutnya Muhammad SAW dengan al-Amin(yang terpercaya), sebuah sebutan yang mengindikasikan kejujuran dan integritas moral yang tinggi. Hal ini terlihat jelas ketika Nabi mendeklarasikan ajaran islam secara terang-terangan untuk yang pertama kalinya di muka umum. Nabi berdiri di Bukit Shafa, dekat Ka’bah. Di atas bukit itu Nabi berdiri dan berteriak memanggil orang banyak. Penduduk Makkah tertarik dan segera mendatangi tempat Nabi, karena yang mereka kenal, Muhammad adalah orang yang terpercaya dan tak pernah melakukan perbuatan demikian.

1. Dakwah Di Makkah

Setelah di angkat menjadi rasul, Nabi mendakwahkan risalah sucinya dengan cara sembunyi-sembunyi. Keluarga, tetangga, dan teman dekat adalah sasaran pertama dakwah beliau. Sepeti istri beliau, Khadijah, dan sahabat dekatnya, Abu Bakar dan Utsman.

Hasilnya, Nabi dan para pengikutnya yang pada saat itu masih lemah, mendapatkan tantangan keras dan aristokrat Makkah, bahkan tidak jarang terjadi penyiksaan di luar batas kemanusiaan. Namun Nabi tetap bertahan,

 hingga suatu saat ketika beliau di bujuk oleh Abu Thalib yang di dorong oleh pemuka-pemuka suku Quraisy, agar ia tidak lagi menyiarkan ajaran Islam dan menjelek-jelekan ajaran nenek moyang kepercayaan pamannya dan orang-orang Makkah pada saat itu.

Beberapa tahun kemudian, keresahan Quraisy semakin bertambah, melihat setiap hari pengikut ajaran baru itu kian banyak. Mereka menganggap biangkeladi semua itu tiada lain adalah keluarga Hasyim, khususnya Muhammad, sehingga dengan menghilangkan semangat kesukuan antar sesama keluarga Quraisy, mereka melakukan pemboikotan untuk tidak melakukan segala bentuk hubungan dengan Bani Hasyim, baik dalam urusan bisnis, perkawinan, maupun peribadatan. 

Menghadapi kondisi yang serba sulit dan siksaan yang di derita umatnya semakin menjadi-jadi, Nabi memerintahkan para pengikutnya untuk hijrah ke Habasyah (Ethiopia).

Di tengah kondisi yang sangat kritis ini, dan resiko perjuangan telah berada di titik nadir, akibat gangguan, siksaan, dan berbagai macam hinaan lainnya yang di alami para penganut ajaran baru ini, bahkan yang menimpa Nabi sendiri, datanglah perintah Isra’ dan Mi’raj dari Masjidil Haram, Makkah, ke Baitul Maqdis, Palesina, kemudian naik ke langit ketujuh hingga Sidrah al-Muntaha(puncak tertinggi). Peristiwa ini terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-11 sejak terutusnya Nabi dan diabadikan dalam al-Qur’an, tujuan Isra’ dan Mi’raj ini disamping untuk menambah dan memperkokoh iman beliau sebagai seorang rasul, juga untuk menguji umat islam, sampai sebatas manakah keimanan mereka dalam menerima kabar yang luar biasa ini.

Sungguh perjuangan yang membutuhkan pengorbanan segala-galanya dalam menyebarkan ajaran suci ini. Keluarga, sanak kerabat, masyarakat sekitar, dan kini mantan-mantan pengikut beliau menjadi musuh. Akhirnya, tiada pilihan lain bagi Nabi kecuali meninggalkan kota kelahirannya itu dan hijrah (migrasi) ke Yatsrib (Madinah) yang penduduknya akhir-akhir ini mengharapkan kedatangan Nabi. Para pemuka Yatsrib berjanji menjamin keselamatan dan keamanan atas diri Nabi. Peristiwa ini terjadi di musim haji tahun ke-13 masa kenabian yang di kenal dengan Bai’ah al-‘Aqabah al-Tsaniyah(perjanjian di bukit ‘Aqabah kedua).Dalam perjanjian ini, hadir 73 orang laki-laki dan 2 orang wanita dari penduduk Yatsrib. Sementara Nabi hanya di temani pamannya, al-Abbas, yang pada waktu itu belum masuk Islam. 

Selama di Makkah, Nabi hanya berhasil menarik beberapa orang pengikut. Khadijah, istri pertamanya, yang berhasil di yakinkan oleh saudara sepupunya, Waraqah Ibn Naufal, saudara sepupu sekaligus anak asuh Nabi, ‘Ali, dan sahabat beliau, Abu Bakar, termasuk kedalam deretan orang-orang yang pertama kali memenuhi seruan Nabi untuk memeluk agama Islam. Hingga beliau bermigrasi ke Madinah, tercatat dalam sejarah hanya sekitar 83 orang saja yang tetap komitmen memeluk agama Islam.


2. Hijrah

Setelah Nabi Muhammad SAW mengadakan dakwah di Makkah selama kurang lebih 13 tahun, kemudian Nabi bersama para pengikutnya pindah ke Yatsrib (Madinah). Disana, Nabi bersama para pengikuuytnya mendapat sambutan hangat dari golongan Anshar(kaum penolong). Gerakan yang menentukan terhadap masa depan Islam ini terjadi pada tahun 622 M, yang kemudian di kenal dengan peristiwa hijrah yang sangat di kenang dan di jadikan permulaan tahun Islam.


Pertama-tama yang di lakukan Nabi di kota tersebut ialah mempersatukan dua komunitas besar, Muhajirin(sahabat pendatang) dan Anshar, yaitu dengan mempersaudarakan individu-individu dari golongan Muhajirin dengan individu-individu dari golongan Anshar. Misalnya, mempersaudarakan Abu Bakar dengan Kharijah Ibn Zaid, Ja’far Ibn Abi Thalib dengan Mu’adz Ibn Jabal, dan lain-lain.

Selanjutnya, nabi mulai membangun negara Islam yang baru tumbuh ini dengan menyiapkan beberapa perangkat untuk mewujudkan keadilan, seperti membuat perjanjian dengan penduduk Madinah yang kemudian di kenal dengan Piagam Madinah, membuat aturan perundang-undangan, dan lain sebagainya. Dari madinah, pada akhirnya teokrasi Islam menyebar keseluruh penjuru semenanjung Arab dan kemudian menambah kesebagian besar daratan Asia barat dan Afrika utara. Komunitas Madinah saat itu menjadi model bagi komunitas-komunitas muslim sesudahnya. 

Post a Comment for " PERADABAN ISLAM PADA MASA RASULULLAH"