MENYATUKAN PRO & KONTRA METODE PENETAPAN HILAL

    Sengaja kami pilih judul tersebut dalam  tulisan ini.Mengingat sampai sekarang ini,banyak bebarapa diantara masyarakat kita yang masih mengedepankan fanatisme kekelompokannya.Menganggap yang lain salah.Secara umum perbedaan penetapan puasa dan Hari raya ‘Idul fithri dikalangan kita terbagi menjadi dua metode.Sebagian ada yang kukuh memegang teguh memakai ru'yah al-Hilal,dan sebagian lebih memilih metode hisab.Lewat tulisan ini,kami akan mencoba “mendamaikan” masing-masing perbedaan tersebut.Menjadikan satu dengan yang lain bisa memahami arti dari perbedaan.Karena dari kedua metode tersebut, masing-masing memiliki tendensi yang dapat dipertanggung jawabkan. Lebih dari itu,tulisan ini juga diharapkan bisa mem-filter penetapan puasa atau syawwal dengan selain yang digariskan para ulama'. Mengingat sebagian ada yang berhari raya hanya berdasarkan mimpi atau wangsit.

MENYATUKAN PRO & KONTRA METODE PENETAPAN HILAL


Metode penetapan Hilal Ramadlan

Sebelum melangkah lebih lanjut,perlu kami jelaskan apa yang dimaksud dengan itsbat (penetapan) itu sendiri.Itsbat adalah keputusan pemerintah terkait dengan penetapan masuknya bulan ramadlan,syawwal atau bulan-bulan hijriyyah lain. Pengaruh itsbat sendiri adalah berdampak pada kewajiban bagi semua masyarakat setempat untuk mengikutinya. Dalam beberapa literatur klasik disebutkan bahwa ada 2 metode yang disepakati para ulama’ dalam penetapan puasa Ramadlan: Melihat hilal dan Mennggenapkan 30 hari bulan Sya’ban.Berdasarkan Hadits :

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

“berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.Jika kalian terkena mendung,maka sempurnakanlah 30 hari bulan sya’ban “ (HR.Al-Bukhori)

Namun dalam mekanisme ru'yah sendiri, masih terdapat perbedaan diantara mereka:

Versi Madzhab Malikiyyah 

Menurut mereka ru'yah terbagi menjadi tiga bagian :

1. Ru'yah yang disaksikan dua orang adil

2. Ru'yah yang disaksikan orang banyak yang tidak memungkinkan keliru

3. Ru'yah yang hanya disaksikan satu orang saja.

Dua ru'yah yang paling atas dapat berdampak kewajiban berpuasa bagi setiap orang yang  mendengar berita akan terjadinya ru'yah.Sementara ru'yah yang hanya disaksikan satu orang saja, hanya berdampak kewajiban puasa bagi dirinya saja atau orang lain yang tidak berkompeten dalam bidang hilal yang mendapat berita darinya.  

Versi Syafi’iyyah

Cukup dengan persaksian satu orang adil dihadapan pemerintah.Hal ini berdasarkan satu riwayat dari Ibni ‘Abbas :

عن ابن عباس - رضي الله عنه - قال: جاء أعرابي إلى رسول الله - صلى الله عليه وسلم -، فقال: إني رأيت هلال رمضان . فقال "أتشهد أن لا إله إلا الله " قال: نعم. قال:" أتشهد أن محمداً رسول الله " قال: نعم.قال:" يا بلال ، أذن في الناس، فليصوموا غداً "

Dari Ibnu ‘Abbas diceritakan :“Telah datang seorang baduwi kepada Rasululoh Saw.Lalu ia berkata : “Sesungguhnya saya telah melihat hilal.Lalu Rasululloh Saw bertanya : “ Apakah engkau bersaksi tiada Tuhan selain Allah ?.Baduwi menjawab : “ ya “.Rasululloh kembali bertanya : “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah ?.Baduwi menjawab : “ya”.Kemudian Rasululloh bersabda : “Wahai Bilal, kabarkanlah kepada warga bahwa esok hari telah tiba bulan puasa “.(HR.Ibnu Hibban & Al-Hakim).

Jika ada kesaksian dihadapan pemerintah tersebut, maka wajib bagi seluruh kaum muslimin yang masih berada dalam satu daerah (Mathla’) untuk mengikutinya. Sementara Untuk orang yang tidak memberikan kesaksiannya dihadapan pemerintah,atau persaksiannya ditolak,kewajiban berpuasa hanya berlaku untuk dirinya pribadi dan orang-orang yang mempercayainya   .


Catatan :

Menurut kalangan syafi'iyyah sendiri,secara umum (terlepas dari keterkaitan dengan itsbat), kewajiban puasa Ramadlan disebabkan 9 hal berikut  :

1. Penggenapan 30 hari bulan Sya'ban

2. Melihat hilal

3. Khabar mutawatir tentang ru'yah meskipun dari non-muslim

4. Statemen pemerintah berdasarkan sumber yang jelas

5. Hasil Itsbat ru'yah minimal dari satu orang adil

6. Pembenaran terhadap orang yang memberi khabar tentang ru'yah

7. Adanya dzonn (misalkan bagi para tawanan yang bisanya dilepas dibulan Ramadlan)

8. Khabar dari ahli hisab bagi yang mempercayainya.Begitupun bagi ahli hisab itu sendiri

9. Tanda-tanda tibanya bulan Ramadlan seperti melihat kembang api, mercon dll.


Pengaruh ru'yah dibulan Syawwal dan bulan-bulan lain

Secara umum,Dalam penetapan hilal selain Ramadlan,mayoritas Ulama’ fiqh sepakat mensyaratkan harus disaksikan minimal dua orang adil.Hanya saja dalam beberapa hal terdapat perbedaan sebagai berikut   :

Versi Hanafiyyah: 

jika cuaca cerah,maka harus disaksikan oleh beberapa orang dihadapan pemerintah yang dapat menyakinkannya

Jika mendung maka cukup disaksikan oleh dua orang laki-laki yang adil,atau satu laki-laki dan dua orang perempuan

Versi Malikiyyah :

Harus disaksikan oleh beberapa golongan yang cukup banyak,sekiranya berita yang disampaikan dapat diyakini kebenarannya.Atau cukup dengan persaksian dua orang adil.

Bagi orang yang melihat hilal hanya sendirian,tidak diperbolehkan merayakan hari raya secara terang-terangan.Dia harus menunggu sampai kabar tentang hari raya sudah menyebar.Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi perpecahan diantara kaum muslimin.Hanya saja dia diperbolehkan untuk merayakannya secara sembunyi-sembunyi

Versi Hanabilah & Syafi’iyyah :  Harus disaksikan oleh dua orang adil.Hal ini dibedakan dengan penetapan hilal Ramadlan yang hanya cukup disaksikan satu orang adil,karena mengedepankan unsur ihtiyath  dalam berpuasa.

Catatan: Menurut madzhab syafi’iyyah bagi orang yang tidak mempersaksikan ru'yah dihadapan pemerintah atau tidak diterima persaksiannya maka harus menghentikan puasanya.Begitu juga bagi orang yang mempercayainya.


Batas pengaruh ru'yah

Dalam khazanah fiqh dikenal ada pembahasan mengenai perbedaan dan persamaan mathla' (Peredaran matahari) suatu daerah.Dengan begitu akan diketahui sejauh mana pengaruh daerah yang melihat hilal apakah akan berimbas pada daerah-daerah lain yang tidak ditemukan ru'yah.Dalam hal ini ulama' berbeda pendapat :

Versi Malikiyyah dan Hanabilah jika dalam satu daerah terdapat ru'yah,maka wajib bagi seluruh daerah kaum muslimin didunia untuk mengikutinya.Versi ini bertendensi bahwa perintah Rasul mengenai kewajiban berpuasa ketika melihat hilal,tidak dibatasi dengan daerah tertentu  .

Versi Syafi'iyyah mempertimbangkan jauh dekatnya daerah yang melihat hilal.Menurut mereka  ru'yah disebuah daerah akan berpengaruh terhadap daerah lain jika kedua daerah tidak berjauhan.Sekiranya dua daerah tersebut masih dalam satu mathla',Inilah yang dikenal dengan ittihad al-mathla' dikalangan fuqoha' syafi'iyyah.Maksudnya garis orbit matahari dikedua daerah tersebut sama.Al-Tibrizi membatasinya sekira jarak dikedua daerah tidak melebihi 24 Farsakh (+ 168 KM)  . Mereka bertendensi dengan suatu hadits :

أن ابن عباس لم يعمل برؤية أهل الشام لحديث كريب أن أم الفضل بنت الحارث بعثته إلى معاوية بالشام ، قال : فقدمت الشام فقضيت حاجتها واستهل علي رمضان ، وأنا بالشام ، فرأيت الهلال ليلة الجمعة ثم قدمت المدينة في آخر الشهر فسألني عبد الله بن عباس ثم ذكر الهلال فقال : متى رأيتم ؟ فقلت : رأيناه ليلة الجمعة . فقال : أنت رأيته ؟ فقلت : نعم . ورآه الناس وصاموا ، وصام معاوية فقال : لكنا رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه ، فقلت : أولا تكتفي برؤية معاوية وصيامه ، فقال : لا . هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم

" Ibnu 'Abbas tidak menggunakan ru'yah-nya penduduk Syam berdasarkan sebuah hadits,bahwa Umm Al-Fadl bintu al-harits mengutus kuraib untuk mendatangi Mu'awiyah dikota Syam.Kuraib berkata "saya datang ke Syam kemudian aku menyampaikan hajat (kebutuhan ) Umm Al-Fadl bintu al-harits dan telah datang padaku hilal Ramadlan, waktu di Syam, hilal terlihat pada malam jum'at.kemudian aku datang ke madinah pada akhir bulan, kemudian 'Abdullah bin abbas bertanya padaku dan berkata "kapan kalian melihat hilal?"aku menjawab "kami melihat pada malam jum'at" ia pun menjawab" kamu melihatnya" aku menjawab "ya",manusiapun telah melihatnya dan mereka berpuasa,dan Mu'awiyyah pun berpuasa. kemudian 'Abdullah bin 'Abbas berkata "Hanya saja aku melihat hilal pada malam sabtu sehingga aku berpuasa sampai sempurna 30 hari atau terlihatnya hilal". kemudian aku menjawab "apakah tidak dicukupkan dengan berpuasa dan terlihatnya hilal oleh Mu'awiyyah? beliaupun menjawab"tidak,beginilah Rasululloh menyuruhku" (HR.Muslim)

Dari hadits tersebut Al-Nawawi menyimpulkan bahwa hukum ru'yah tidak dapat berpengaruh didaerah tetangga yang jauh  .

Catatan :

Menurut Imam Al-Haramain dan Al-Rafi'i,ru'yah disuatu daerah akan berimbas pada daerah lain selama jarak antara dua daerah tersebut belum melewati batas diperbolehkan meng-qashar shalat (+ 90 KM).Menurut pendapat ini,pertimbangan ittihad al-mathali' tidak dianggap karena akan melibatkan para ahli hisab yang notabenenya tidak mendapat pengakuan dari syara'.Sehingga harus memakai standart jarak yang jelas-jelas menjadi patokan dalam berbagai hukum syara'.Dalam hal ini adalah masafah Al-Qashri.Pendapat ini juga didukung Al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim-nya.  

Menurut Imam Al-Subuki,Al-Asnawi dan Ulama' lain,jika terjadi ru'yah didaerah timur,maka sudah pasti didaerah barat akan mengikut. meskipun garis orbit matahari dikedua daerah tersebut berbeda.Tidak demikian dengan sebaliknya.Sebab,malam hari terlebih dahulu muncul didaerah timur sebelum daerah barat .Untuk itu bagi daerah barat harus mengikuti hasil ru'yah daerah yang berada di timur meskipun berbeda mathla'-nya.Namun, pendapat ini tidak disetujui oleh Ibnu Hajar.Menurutnya,meskipun terdapat kelaziman seperti diatas,namun yang menjadi pertimbangan dalam ru'yah adalah nafsu al-ru'yah (melihat hilal secara nyata) bukan imkan al-ru'yah (kemungkinan terjadinya ru'yah) .Karena bisa jadi didaerah barat tidak dapat melihat hilal karena terhalang sesuatu.Untuk itu daerah barat tidak harus mengikut hasil ru'yah daerah timur menurut versi ini  .


Metode hisab

Hisab adalah prediksi keberadaan bulan dan peredarannya.Orang yang ahli dalam masalah tersebut disebut dengan Al-Hasib.Senada dengan Al-Hasib adalah al-munajjim,yaitu orang yang memprediksikan awal bulan dengan munculnya bintang tertentu .Dalam urusan publikasi pemerintah untuk rakyat,ulama' sepakat bahwa hisab tidak dapat dijadikan pijakan.Namun untuk urusan pribadi,para ulama' masih terjadi perbedaan sebagai berikut  :

Versi Hanafiyyah,Malikiyyah,dan Hanabilah hisab tidak bisa dijadikan pijakan mengawali puasa atau berbuka.Baik bagi Hasib sendiri maupun orang lain.

Versi sebagian ulama' syafi'iyyah diperbolehkan bagi hasib dan orang yang mempercayainya menggunakan hisab sebagai pijakan.

Dua perbedaan tersebut dilatar belakangi dua pemahaman berbeda mengenai hadits :

لا تصوموا حتى تروا الهلال ، ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا له

"janganlah kalian berpuasa sampai melihat hilal,dan janganlah berbuka sampai kalian melihatnya.Jika cuaca mendung,maka sempurnakanlah/kira-kirakanlah 30 hari bulan sya'ban" (H.R.Bukhori & Muslim)

Kata "Faqduru lahu" inilah yang menjadikan sebab perbedaan diantara para ulama'.

Ulama' yang menjadikan hisab bisa dijadikan pijakan mengartikan "faqduru lahu " dengan "Al-Taqdir" (mengira-ngirakan).Dengan Bahasa "al-Taqdir" disini dapat difahami bahwa hisab sebagai salah satu pedoman.Karena pada dasarnya hisab itu dikembalikan kepada perkiraan sang pakar hisab tentang bagaimana dan kapan terjadinya hilal.Disamping itu,menurut versi ini yang menjadi inti dalam ru'yah,tidak harus melihat hilal secara nyata (nafsu al-ru'yah).Akan tetapi cukup dengan kemungkinan terjadinya ru'yah (imkan al-ru'yah).

Sementara versi mayoritas ulama' menginterpretasikan kata tersebut dengan "Al-Takmil " (menyempurnakan) dan " Al-Tadlyiq " (Menyempitkan).Menyempurnakan bulan Sya'ban berarti menunjukan tidak ada jalan lain dalam menentukan itsbat.Penafsiran ini mengacu dengan salah satu ayat :

قد جعل الله لكل شيء قدرا

Sesungguhnya Allah telah Mengadakan bagi tiap-tiap sesuatu secara sempurna (Q.S.Al-Thalaq : 3)

Dalam ayat tersebut secara jelas kata "qadra" mengandung arti "Al-Tamam".Begitu juga didukung dengan riwayat lain yang memakai bahasa :

فأكملو العدة ثلاثين

Dimana dalam riwayat tersebut Rasululloh tidak mengatakan "Tanyalah terhadap ahli hisab".Andaikan bahasa "Faqduru lahu" diartikan sebagaimana pendapat diatas maka niscaya Rosululloh akan menyuruh Para sahabat pada waktu itu untuk menanyakannya pada ahli hisab.Disamping itu,menurut Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fathal Bari-nya menyebutkan bahwa kondisi orang arab yang secara karakter kurang begitu dapat mengetahui ilmu hisab,maka yang lebih dekat agaknya "faqduru lahu " itu diartikan dengan menyempurnakan 30 bulan Sya'ban.

Mengenai tafsiran "Al-Tadlyiq",agaknya hanya kalangan hanabilah yang memakainya.Maksud menyempitkan ini adalah menjadikan bulan Sya'ban hanya 29 hari saja.Sehingga mereka merumuskan bahwa ketika cuaca mendung,diwajibkan bagi kaum muslimin untuk berpuasa Ramadlan berdasarkan hadits diatas  . Disamping itu,menurut versi ini yang menjadi inti dalam ru'yah, harus melihat hilal secara nyata (nafsu al-ru'yah).tidak cukup hanya dengan kemungkinan terjadinya ru'yah (imkan al-ru'yah).


Jika hisab dan Ru'yah bertentangan

Jika ada seseorang yang ru'yah,namun tidak sesuai dengan tuntutan hisab,maka terdapat beberapa perbedaan ulama' sebagai berikut   :

Versi Muhammad Al-Ramli lebih didahulukan ru'yah.Sebab munculnya persaksian munculnya hilal telah mendapat legitimasi langsung dari syari'at.Sehingga pendapat ini mengabaikan kemungkinan tidak adanya ru'yah yang disampaikan oleh para ahli hisab.Jadi,menurut versi ini jika ada ang bersaksi melihat hilal,maka harus diikuti,sekalipun ahli hisab menyangsikan hilal bisa dilihat

Versi Al-Subuki lebih dimenangkan hisab.Sebab menurut versi ini,validitas perhitungan (hisab) tidak dapat dimentahkan dengan ru'yah yang hanya mampu mengantarkan pada taraf dzonn (persangkaan)

Versi Ibnu Hajar Al-Haitami cenderung moderat diantara dua pendapat diatas.Yakni,hasil ru'yah bisa ditolak,tetapi dengan syarat yang ketat.Pertama,ahli hisab sepakat bahwa hilal tidak mungkin bisa diru'yah yang dinyatakan oleh banyak kalangan (tawatur).Kedua,teori ilmu hisab yang dipakai harus dengan hisab qath'i (valid dan telah berulang kali terbukti kebenarannya).Apa bila dua syarat ini tidak terpenuhi,maka menurutnya hasil ru'yah harus diikuti.


Khabar hilal lewat mimpi (wangsit)

Sebagian dikalangan kita ada saja yang menggunakan mimpi sebagai pijakan dalam menentukan puasa atau 'idul fithri.Menurut catatan Abu Zakariyya Al-Anshari dalam "Asna Al-Mathalib" ulama' sepakat (ijma') bahwa khabar dari mimpi tidak dapat dijadikan tendensi dalam penentuan awal bulan.Sekalipun mengklaim bahwa khabar tersebut dari Nabi  .

Dari berbagai uraian diatas dengan seambreg khilafiyyahnya,agaknya perbedaan yang selama ini terjadi dikalangan masyarakat kita hendaknya harus lebih disikapi secara dewasa.Sepanjang masih dengan ketentuan fiqhiyyah yang mu'tabar maka hal tersebut tidak menjadi masalah besar.Wallohu a'lam

Post a Comment for "MENYATUKAN PRO & KONTRA METODE PENETAPAN HILAL"