MENGENAL LEBIH JAUH TENTANG LARANGAN MENGUBAH KODRAT TUHAN

Pengertian 

           Tagyirul khalqi (merubah kodratnya) adalah sebuah  paya merubah bentuk perkara dari wujud sebelumnya baik dengan cara menambahkan maupun menguranginya seprti tato, menyambung rambut dll. Syariat telah melarang keras tindakan tersebut sebagaimana tercantum dalam hadits yang disampaikana rasul 

لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ.

 Allah melaknati orang-orang yang membuat tahi lalat, orang yang minta dibuatkan tahi lalat, wanita-wanita yang menghilangkan rambut keninganya, wanita-wanita yang minta dihilangkan rambut keningnya dan wanita-wanita yang mengikir gigi depanya  karena tujuan memperelok yang merubah ciptaan Allah.

MENGENAL LEBIH JAUH TENTANG LARANGAN MENGUBAH KODRAT TUHAN


            Teks hadits diatas tidak menyebutkan segala bentuk perubahan yang dilarang maupun devinisi secara tegas tentang bentuk perubahan yang dilarang. Beberapa pakar beragam dalam menginterpretasikan teks hadits tersebut. Mayoiritas kalangan ulama memahami bahwa setiap bentuk perubahan yang tidak mendapatkan legalitas syar’i termasuk dalam   bentuk perubahan yang dilarang oleh syariat.  Mereka beranggapan bahwa larangan yang disampaikan karena melihat dampak yang sangat mungkin terjadi  berupa penipuan terhadap pihak lain, sehingga pola pikir ini mengakomodir segala bentuk perubahan baik yang berupa temporal maupun permanen.  Hal ini cukup kontras dengan pandangan benberapa pakar yang secara tegas mengklaim bahwa larangan merubah fitrah seseorang tidak dilatarbelakangi oleh faktor eksternal  melainkan karena praktik perubahan dari kodrat itu sendiri, sehingga pola pikir yang kedua ini hanya mengakomodir pada praktik perubahan   yang bersifat cukup lama (semu permanen) sebab perubahan fitrah seseorang hanya dapat terjadi secara kongkrit pada bentuk perubahan  dalam durasi yang cukup lama. 

   Secara terperinci beberapa bentuk perubahan yang sering terjadi adalah sebagaimana yang tertera dalam hadits. 

صحيح البخاري ـ حسب ترقيم فتح الباري - (6 / 184)

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، عَنْ مَنْصُورٍ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ ، عَنْ عَلْقَمَةَ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ ، قَالَ : لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُوتَشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ فَبَلَغَ ذَلِكَ امْرَأَةً مِنْ بَنِي أَسَدٍ يُقَالُ لَهَا أُمُّ يَعْقُوبَ فَجَاءَتْ فَقَالَتْ إِنَّهُ بَلَغَنِي أَنَّكَ لَعَنْتَ كَيْتَ وَكَيْتَ فَقَالَ وَمَا لِي لاَ أَلْعَنُ مَنْ لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وَمَنْ هُوَ فِي كِتَابِ اللهِ فَقَالَتْ لَقَدْ قَرَأْتُ مَا بَيْنَ اللَّوْحَيْنِ فَمَا وَجَدْتُ فِيهِ مَا تَقُولُ قَالَ لَئِنْ كُنْتِ قَرَأْتِيهِ لَقَدْ وَجَدْتِيهِ أَمَا قَرَأْتِ {وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا} قَالَتْ بَلَى قَالَ فَإِنَّهُ قَدْ نَهَى عَنْهُ قَالَتْ فَإِنِّي أَرَى أَهْلَكَ يَفْعَلُونَهُ قَالَ فَاذْهَبِي فَانْظُرِي فَذَهَبَتْ فَنَظَرَتْ فَلَمْ تَرَ مِنْ حَاجَتِهَا شَيْئًا فَقَالَ لَوْ كَانَتْ كَذَلِكَ مَا جَامَعَتْنَا. وجاء في الحديث : لعن الله الواشرة والمؤتشرة.فالواشرة : هي التي تشر أسنانها وتحددها.

1. Tato (al wasym)dan  kikir gigi(at-tafaluj)

         Pada dasarnya larangan yang tertera dalam hadits secara tegas adalah praktik membuat tahi lalat , namun karena melihat bentuk tato yang secara esensial sama dengan pembuatan tahi lalat maka mereka menyamakan dalam segi hukumnya. Tato adalah merupakan seni melukis tubuh dengan menggunakan jarum. Mengenai hukumnya semua ulama hampir sepakat bahwa hal ini diharamkan selama proses pelaksanaanya tidak sampai menyakitkan yang secara umum tidak dapat tahan. Sedangkan mengenai keabsahan shalat dan bersucinya tetap dihukumi sah karena dirasa sulit dan menyakitkan dalam menghilangkanya, selain itu juga dapat menyisakan bekas jelek pada kulit. Namun demikian mayoritas ulama mewajibkan untuk menghilangkanya sebab mereka menilai daerah yang berada disekitar area tato telah bercampur dengan darah -dengan ketentuan : 

1. Orang tersebut ditato atas persetujuannya

2. Ditato setelah baligh

3. Tidak sulit untuk menghilangkanya seperti ia memiliki uang sehingga bisa menghilangkan tato dengan obat atau laser penghilang tato tanpa rasa sakit yang berarti dan tidak menyisakan bekas yang jelek pada kulit.

      Namun sebagian golongan minoritas berasumsi bahwa tato yang telah terukir ditubuh tidak wajib untuk dihilangkan, hal ini bertaendensi pada teks hadist yang diriwayatkan oleh Qaes inb Hazim.  

قيس بن أبي حازم قال " دخلنا على أبي بكر رضي الله عنه في مرضه فرأيت عنده امرأة بيضاء موشومة اليدين تذب عنه ، وهي أسماء بنت عميس .

Artinya: "Suatu ketika kami menjenguk Abi Bakar ketika sakit dirumahnya, lalu kami melihat sosok wanita yang kulitnya putih langsat yang mana kedua tanganya terdapat semacam tato dan ia tersipu malu melihat kedatangan kami, dia adalah  Dewi Asma binti Umes."

Mengikir gigi adalah Meruncingkan dan merenggangkan jarak antara gigi. Hal ini diharamkan karena merubah kodrat ilahi dan juga dapat menipu lawan jenis karena dianggap masih muda(biasanya orang tua memiliki gigi yang lebih rekat dari pada anak muda).  Dalam surat an-niasa ayat 117-119 Allah berfirman: 

{إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثاً وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَاناً مَرِيداً َعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيباً مَفْرُوضاً وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيّاً مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَاناً مُبِيناً يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُوراً أُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصاً}

Artinya: 

117. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka

118. Yang dila'nati Allah dan syaitan itu mengatakan: "Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya)

119. Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya". Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.

     Para pakar tafsir memahami bahwa ayat ini merupakan larangan keras dalam merubah kodrat ilahi dalam bentuk apapun. 

2. Menipiskan alis (an-Namshu)

       Menurut sebagian golongan ulama seperti Abu Ubaed , dll, an Namsu adalah menghilangkan setiap rambut yang berada  diarea wajah wanita seperti kumis, jenggot, alis dll hanya saja khusus larangan mengerik alis juga meliputi laki-laki. Namun sebagian kalangan yang lain lebih mengerucut dalam memahami teks hadits diatas. Sebab teks hadits (المتنصمات) diatas tidak memiliki batasan pasti secara syar,i maupun urfi maka dalam memamahami harus dikembalikan pada takaran bahasa. المتنصمات dari akar kata at-tanamush yang termasuk dalam kategori makna mubalaghah (bertindak secara berlebihan) memiliki arti usaha secara berlebihan dalam mengihilangkan alis mata seperti menghilangkanya secara totalitas maupun hanya menyisakan sedikit alis seperti bulan sabit. Hal ini diperkuat oleh nalar beberapa pakar fikh yang menilai bahwa tumbuhnya kumis dan jenggot pada seorang wanita dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Telepas dari semua itu, beberapa ulama mengharamkan praktik tersebut kecuali jika dibiarkan dapat menganggu kenyamanan mata atau dalam rangka mempercantik diri atas persetujuan suami. (fathul bar, ahkamujirahatitajmil, ikmalul muallim)

3. Menyambung rambut (al- washilaat)

     Al washilaat adalah menyambung rambut baik dengan rambut sendiri maupun rambut orang lain atau dengan sejenis rambut seperti bulu maupun yang lain. Secara tegas Rasul melaknat wanita yang menyambung rambut seperti yang telah diriwayatkan oleh imam bukhori.

أحكام جراحة التجميل في الفقه الإسلامي (ص: 4)

وروى البخاري عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : " لعن الله الواصلة والمستوصلة 

Secara terperinci ulama memilah praktek tersebut dalam dua kategori:

1. Menyambung rambut dengan rambutnya sendiri atau rambut orang lain atau bahan sejenis rambut seperti bulu dll, maka diharamkan jika sesuatu yang dijadikan untuk menyambung sama persis seperti rambut yang disambung. 

2. Menyambung dengan bahan yang tidak sejenis dengan rambut seperti kain dll, maka diperbolehkan karena sangat jelas dapat dibedakan oleh orang yang melihat.

     Mengenai hukum menyambung rambut, hal ini terkait erat dengan pandangan ulama bahwa latar belakang larangan tersebut adalah terdapat potensi penipuan terhadap pihak lain, sehingga hukum diatas tergantung status pelakunya, jika sudah bersuami maka diperbolehkan atas persetujuan suaminya, hal ini diperbolehkan dalam rangka berhias untuk suami.   

4. Semir rambut 

A. Semir rambut warna merah, kuning dll, pada dasarnya disyariatkan sesuai dengan teks hadist berikut: 

تمام المنة في التعليق على فقه السنة (ص: 87)

عن عبد الله بن عمر رفعه : " الصفرة خضاب المؤمن والحمرة خضاب المسلم والسواد خضاب الكافر

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar : "warna kuning adalah merupakan semir rambut seorang mukmin, warna merah merupakan semir rambut seorang muslim sedangkan warna hitam adalah merupakan semir seorang non muslim". 

       Secara historis semir warna selain hitam, pada zaman dahulu dianjurkan dalam rangka untuk membedakan identitas dari komunitas yahudi dan nashrani, karena pada saat itu kaum muslimin tengah berbaur dengan komunitas lain.  Secara prinsip, islam berusaha agar memiliki jati diri sebagai agama, sehingga demi menjaga kemurnianya ia berusaha untuk memiliki identitas yang berbeda dari ajaran lain. Jadi mengenai hukum bersemir warna kuning atau merah hanya dianjurkan bagi orang-orang saleh, sesuai dengan teks hadits yang merangkai lafadz muslim dengan lafadz mukmin  yang biasanya dipahami dengan arti muslim yang sempurna yaitu orang-orang saleh. Sedangkan bagi orang-orang yang masih berada pada barisan non saleh, maka secara hukum dasar hal tersebut dimakruhkan karena meniru gaya hidupnya orang saleh sebab dikhawatirkan dapat menipu orang lain.  Namun jika melihat kondisi masyarakat sekarang, dimana semir warna lebih cenderung merupakan trend anak-anak nakal maka hal ini diharamkan, selain karena dilarang menyerupai trend anak nakal, juga hal tersebut dapat memancing orang lain terjerumus kedalam lembah dosa karena telah berprasangka buruk pada orang yang bersemir.

B. Semir warna hitam

        Rasul melarang penggunaan semir warna hitam dengan menggunakan kata perintah yang secara umum dapat diartikan haram  :


 عن جابر – رضي الله عنه  قال : أتي بأبي قحافة يوم الفتح، ورأسه ولحيته كالثغامة بياضاً، فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم :" غيروا هذا بشيء واجتنبوا السواد"

Diriwayatkan dari sahabat Jabir bahwa pada saat penaklukan kota mekah beliau datang untuk menemui Rasul bersama Abi Quhafah  yang beruban pada rambut dan jenggotnya lalu rasul barkata "Rubahlah warna uban ini dengan sesuatu dan hindarilah dengan warna hitam. 

       Sebagian kalangan menilai bahwa faktor yang melatarbelakangi keharaman memakai semir rambut warna hitam adalah bentuk merubah kodrat dan potensi penipuan terhadap pihak lain, sebab warna hitam dapat mengubah seseorang yang telah memasuki usia lanjut  menjadi lebih muda dimata orang lain, namun sebagian kalangan lain tidak sependapat dengan alasan tersebut karena dinilai memiliki beberapa kelemahan seperti jika pelakunya orang bule maka mestinya tida haram sebab dari kecil rambutnya berwarna pirang, sehingga secara bijak mereka cenderung menilai bahwa larangan tersebut lebih mengarah pada dogmatik (ta'abudi) yang tidak dapat dijangkau oleh nalar manusia. Namun ada beberapa cendekiawan muslim yang memahami teks hadits diatas secara kritis , pertama sanad haditsnya masih disangsikan karena terdapat salah satu perawi yang belum memenuhi standar sebagai perawi hadits yakni Abdal Kareem ibn Abi al-Makhariq yang memiliki julukan Aba Umayyah (standar perawi hadist diantaranya dapat dipercaya dalam meriwayatkan hadits, memiliki hafalan yang cukup bagus dan memiliki sanad hadits yang dapat dipertanggung jawabkan), kedua substansi larangan pada hadits diatas bukan pada praktik menyemir hitam. Hal ini dapat dibuktikan dengan runtutan hadits dari Ibn Abbas yang kurang lebih berarti " kelak diakhir zaman akan ada sekelompok manusia yang menyemir hitam rambut nya –sehingga nampak seperti dada burung dara yang hitam - mereka tidak akan diperkenankan untuk mencium bau wangi surga"

حديث بن عباس رواه أبو داود وغيره عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم يكون قوم يخضبون في آخر الزمان بالسواد كحواصل الحمام لا يريحون رائحة الجنة

      Jika dicermati, ancaman dalam hadits tersebut (dengan ungkapan "kelak") tidak mengarah pada subtansi menyemir dengan warna hitam melainkan pada bentuk kemaksiatan yang lain, sebab dari zaman sahabat telah ada yang mewarnai rambutnya dengan semir hitam seperti  sahabat Uqbah ibn A'mir. Ketiga dalam rangka mengakomodir dari beberapa teks hadits yang seakan-akan bertentangnan maka harus memahami hdits tersebut secara kontekstual bahwa larangan menyemir rambut berlaku jika terdapat unsur penipuan terhadap pihak lain. 


      Wal hasil, segala ekspresi dalam merubah diri dapat dibenarkan jika sesuai dengan ketentuan sbb:

1. Prosesnya tidak menimbulkan rasa sakit yang secara umum tidak mampu ditahan.

2. Hal tersebut dilakukan karena dalam kondisi hajat seperti malu dll.

3. Ada dugaan kuat orang yang menanganinya sudah teruji terutama ketika hendak menato kulit.

4. Perubahan yang dilakukan tidak sampai keluar dari bentuk dasar seperti dengan memperbesar, memperkecil, menambahkan maupun mengurangi.

5. Tidak terdapat unsur membujuk atau menipu pada pihak lain

6. Bukan karena faktor meniru lawan jenis.

7. Tidak bertujuan meniru trend non muslim maupun anak-anak nakal.

Post a Comment for "MENGENAL LEBIH JAUH TENTANG LARANGAN MENGUBAH KODRAT TUHAN"