ANTARA PRO DAN KONTRA POLIGAMI DALAM ISLAM

Poligami adalah beristerikan lebih dari satu. Adakalanya dua, tiga atau empat isteri. Islam jauh-jauh hari telah merumuskan tentang poligami, sebagaimana tertuang dalam al-Qur'an surat an-Nisa' : 03.

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

Artinya : "Maka kawinlah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : Dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinlah) seorang saja".

ANTARA PRO DAN KONTRA POLIGAMI DALAM ISLAM


Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda kepada sahabat al-Ghoilan yang telah masuk Islam yang mempunyai istri 10 wanita :

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِغَيْلاَنَ بْنِ سَلَمَةَ حِينَ أَسْلَمَ وَتَحْتَهُ عَشْرُ نِسْوَةٍ :« اخْتَرْ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا وَفَارِقْ سَائِرَهُنَّ »

Artinya : Rasulullah SAW bersabda pada Ghoilan ibn Salamah ketika masuk Islam dan dia mempunyai 10 istri : "Tahanlah empat (dari isterimu) dan ceraikan yang lainnya".

Beberapa kalangan ulama tidak terdapat perselisihan bahwa ayat tersebut merupakan dalil legalitas poligami bagi kaum laki-laki selama mampu berlaku adil dalam bersikap dan penampilan lahiriah terhadap isteri-isterinya. Bahkan beberapa pakar mencoba mengkaji hikmah yang terkandung dibalik legalitas poligami diantaranya:

Pertama, kodrat wanita mengalami menstruasi setiap bulannya sehingga dikhawatirkan jika syariat hanya melegalkan monogami maka perkembangan umat muslim akan terhambat. Padahal salah satu maksud dibalik pernikahan adalah sebagai media untuk menjaga eksistensi umat muslim. Berkaitan dengan hal ini rasul bersabda kepada segenap umat muslim hendaknya menikahi wanita yang bersikap penuh kasih sayang dan masih produktif demi menjaga eksistensi umat muslim.

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : تزوجوا الودود الولود فإني مكاثر بكم الأمم هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه بهذه السياقة 

Kedua, sunatullah dan fakta empiris (catatan sejarah) menunjukan jumlah populasi laki-laki jauh dibawah kaum hawa, sehingga jika syariat tidak melegalkan poligami niscaya sangat banyak wanita yang tidak dapat terpenuhi kebutuhan biologisnya secara legal. 

Ketiga, secara kodrat wanita memang dipersiapkan untuk berkeluarga, hal ini terbukti dengan aturan syariat yang tidak memebebankan nafkah kepada mereka, sebaliknya beban nafkah ditanggung seorang laki-laki, sementara banyak dari kaum adam yang tidak mampu menanggung kewajiban-kewajiban dalam pernikahan sehingga tingkat kesiapan wanita dalam membina rumah tangga lebih besar dari pada laki-laki . simpelnya tidak 100% laki-laki sanggup menikah sementara 100%  wanita telah siap untuk dinikahi sehingga jika agama hanya melegalkan praktek monogami maka beberapa wanita tidak mendapatkankan pasangan untuk menempuh jenjang pernikahan.

Namun demikian islam sangat ketat dalam mebatasi legalitas poligami hanya bagi laki-laki yang benar-benar mampu berbuat adil dalam hal memenuhi kebutuhan materi dan fisik seperti seperti nafkah, tempat tinggal, menggilir,dan memeperlakukan istri dengan baik. Dalam al-quran surat an-Nahl secara tegas Allah menyuruh kita agar berbuat adil dan memberikan kenyamanan

{إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْأِحْسَانِ} [16/90]

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan

Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa cinta seseorang tidak dapat dibagi secara merata karena  hal ini merupakan tabiat manusia, selama tidak menyia-nyiakan hak orang lain maka masih tetap berada dalam toleransi syariat.  

{وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ} الآية [4/129]

Artinya: Dan kalian semua tidak mampu berbuat adil diantara istri-istri

Berkaitan dengan tabiat manusia yang tidak mampu membagi cinta secara merata, rasul pernah bertutur :

السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي (7/ 298)

اللَّهُمَّ هَذَا قَسْمِى فِيمَا أَمْلِكُ فَلاَ تَلُمْنِى فِيمَا تَمْلِكُ وَلاَ أَمْلِكُ ». قَالَ الْقَاضِى يَعْنِى الْقَلْبَ وَهَذَا فِى الْعَدْلِ بَيْنَ نِسَائِهِ. قَالَ الشَّافِعِىُّ رَحِمَهُ اللَّهُ : وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُطَافُ بِهِ مَحْمُولاً فِى مَرَضِهِ عَلَى نِسَائِهِ حَتَّى حَلَلْنَهُ.

Artinya : "Ya Allah ini adalah bagian yang aku miliki maka janganlah Engkau menghukum pada sesuatu yang tidak aku miliki (menurut Imam al-Qodhi kecenderungan hati)".

 Fakta membuktikan bahwa setiap wanita tidak ada yang mau dimadu namun bukan berarti islam tidak berperasaan dalam merumuskan sebuah aturan, melainkan cara pandang islam jauh lebih luas daripada perasaan seorang yang hanya terbatas pada hal-hal yang dapat dijangkau oleh nalarnya.  Hal ini senada dengan asysyathibi dalam menginterpretasikan surat al Hijir ayat 9 

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [الحجر:9]

Dengan arti yang lebih luas bahwa Allah menurunkan al-Quran yang menjadi pedoman aturan hukum beserta dengan segala bentuk kemashlahatan yang terkandung didalamnya. Lebih lanjut para pakar menilai bahwa bentuk kemashlahatan yang ditawarkan oleh islam masih bersifat relatif tergantung kondisi daerah, zaman dan dampak yang ditimbulkan. Maka hukum yang telah diterapkan oleh syariat masih perlu memandang beberapa dampak yang dapat menjadi pertimbangan pemberlakuan sebuah hukum.  Sebab tidak ada satupun aturan syariat yang terlepas dari hikmah didalamnya . 

 Jika menilik pada rangkaian ayat diatas yang tergabung dengan tekanan agar berbuat adil terhadap anak-anak yatim yang diadopsi maka dapat diambil kesimpulan bahwa perintah berpoligami bukan merupakan anjuran melainkan sebagai peringatan bahwa berpoligami sangat rentan dengan ketidak adilan seorang suami. Pada dasarnya pesan moral yang dapat diambil dari ayat tersebut adalah penyebaran sikap adil yang harus dilakukan oleh setiap orang, namun karena kondisi masyarakat arab pada saat itu masih belum mampu melepaskan kebiasaan mereka dengan memiliki puluhan pendamping, maka islam menyampaikan dengan tawaran berpoligami maksimal empat orang istri. 

Mengenai hukum pernikahan yang dilakukan tidak terkait dengan ayat tentang poligami, artinya antara poligami dan pernikahan merupakan dua hal yang berbeda . pada kesimpulanya meskipun poligami pada dasarnya diperbolehkan oleh syariat namun pada pelaksanaanya harus mempertimbangkan kondisi pelakunya. Sehingga seorang istri berhak menolak untuk dimadu jika dirasa suaminya tidak mampu berbuat adil dalam menjalankan kewajibanya. 

Sementara beberapa kalangan mensyaratkan bahwa legalitas poligami harus atas persetujuan dari istri tua . Hal ini karena bertendensi dengan surat an-nisa ayat 19

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً } [النساء: 19]

Artinya:Dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

Selain itu, karena pertimbangan bahwa masyarakat diindonesia belum mampu menerima poligami sepenuhnya sehingga keputusan hukumnya disesuaikan dengan kebiasaan yang biasa terlaku dan dapat diterima oleh masyarakat setempat. Sesuai dengan kaidah yang terlaku 

ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن










Post a Comment for "ANTARA PRO DAN KONTRA POLIGAMI DALAM ISLAM"